"Generasi Alpha dan Z menghadapi krisis eksistensial yang unik di era digital, ditandai oleh banjir informasi, isolasi sosial paradoks, dan kecemasan akan identitas. Meskipun terhubung secara virtual, banyak individu muda ini mengalami ""kelaparan spiritual"" dan kesepian emosional yang mendalam. Pendekatan pastoral tradisional yang bersifat instruktif atau dogmatis sering kali gagal menjangkau kebutuhan psikospiritual mereka yang kompleks dan cair. Dengan mengadopsi pendekatan berbasis naratif, pendamping diajak untuk membantu kaum muda membongkar, memahami, dan menulis ulang cerita hidup mereka yang sering kali terfragmentasi oleh tekanan media sosial dan ekspektasi sosial. Naratif pribadi tidak dilihat sebagai masalah yang harus diperbaiki, tetapi sebagai teks suci yang perlu dihormati dan didalami.
Selain itu, spiritualitas kontemplatif—seperti praktik keheningan, napas sadar, dan lectio divina—sebagai alat vital untuk mengatasi kebisingan internal dan eksternal. Praktik-praktik ini dirancang khusus agar relevan dengan gaya belajar dan pola pikir generasi digital, membantu mereka menemukan jeda di tengah arus deras informasi. Kombinasi antara validasi naratif dan ketenangan kontemplatif menciptakan ekosistem pastoral yang holistik, memungkinkan terjadinya penyembuhan luka batin, pemulihan identitas, dan penguatan ketahanan spiritual.
Melalui refleksi teologis, dan panduan praktis, diharapkan adalah terbentuknya komunitas yang empatik, di mana setiap individu merasa secara mendalam dan diakui keberadaannya. Pada akhirnya, memberdayakan Generasi Alpha dan Z agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi subjek aktif yang mampu merajut makna hidup yang autentik, resilien, dan bermakna di tengah kompleksitas zaman pasca-modern."
| Ukuran | 21.00 x 29.00 |
| Halaman | 259 |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Penulis | Ev. Stefanus Adi Wijaya, S.Th., M.A. |
| Penerbit | Elementa Media Literasi |
| ISBN | |
| e-ISBN |