Seni sering kali dianggap sebagai ekspresi emosional yang subjektif atau sekadar tampilan visual yang estetis. Namun, buku ini menawarkan perspektif yang lebih radikal: seni adalah sistem komunikasi yang kaya akan tanda dan simbol. Melalui pendekatan semiotika, kita diajak untuk "membaca" karya seni sebagai bahasa yang berbicara tanpa kata, di mana setiap goresan kuas, gestur tubuh, hingga algoritma digital memiliki makna tersembunyi yang menunggu untuk diungkap.
Buku ini disusun secara sistematis untuk menjembatani teori akademik dengan praktik kritik seni yang aplikatif. Dimulai dengan meletakkan fondasi strukturalisme dari Ferdinand de Saussure dan tipologi tanda Charles Sanders Peirce, pembaca akan dipandu memahami bagaimana makna konotatif dan mitos bekerja dalam seni melalui pemikiran Roland Barthes. Tidak berhenti pada teori, buku ini mengeksplorasi lapisan simbolisme dalam berbagai medium, mulai dari lukisan klasik dan patung, seni instalasi yang kompleks, hingga seni pertunjukan seperti teater Kabuki yang penuh kode simbolis.
Memasuki era modern, buku ini menjawab tantangan tafsir dalam dunia film, fotografi, hingga fenomena seni digital seperti NFT dan media baru. Penulis menekankan bahwa makna sebuah karya tidak hanya lahir dari niat seniman, tetapi juga dikonstruksi oleh latar belakang budaya dan pengalaman audiensnya.
| Ukuran | 14.00 x 21.00 |
| Halaman | 0 |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Penulis | Tri Aru Wiratno |
| Penerbit | Elementa Media Literasi |
| ISBN | |
| e-ISBN |