Hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan benteng terakhir keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dari krisis lingkungan yang kian nyata. Buku ini mengajak pembaca memahami jalinan kehidupan yang melibatkan pohon, tanah, air, dan mikroorganisme, serta menempatkan burung sebagai bioindikator utama untuk mengukur kesehatan lingkungan sekitar. Kehadiran burung-burung ini menjadi penanda bahwa ekosistem, khususnya di pedesaan, masih mampu menopang kehidupan dengan baik.
Lebih dari sekadar paparan teoretis, buku ini membedah struktur hutan yang beragam—mulai dari tajuk pohon, semak, hingga serasah—sebagai habitat esensial bagi kehidupan burung dan satwa lainnya. Di dalamnya juga disajikan panduan praktis mengenai konservasi berbasis komunitas yang aplikatif, mulai dari tata cara pelepasliaran satwa yang etis, teknik pemantauan pasca-rilis, hingga pentingnya literasi lingkungan bagi generasi mendatang. Dengan memadukan aspek ekologis, sosiologis, dan hukum, buku ini merumuskan strategi agar hutan rakyat dapat tetap produktif secara ekonomi sekaligus lestari secara ekologis. Jika suara kicauan burung yang kini kian jarang terdengar adalah alarm bagi kesehatan lingkungan kita, sudahkah kita siap menjadi bagian dari solusi untuk menjaga agar nyanyian alam itu tidak hilang selamanya?
| Ukuran | 14.00 x 21.00 |
| Halaman | 327 |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Penulis | Farid Muldiyatno, M.T. |
| Penerbit | Elementa Media Literasi |
| ISBN | 978-634-313-085-7 |
| e-ISBN | 978-634-313-086-4 |