Reformasi 1998 menjanjikan fajar baru bagi demokrasi Indonesia dengan berakhirnya era otoritarianisme. Namun, seiring berjalannya waktu, institusi demokrasi kita justru tampak terjebak dalam pusaran relasi personal dan kepentingan segelintir elite. Buku ini membongkar paradoks tersebut, menunjukkan bagaimana jejaring kekuasaan, patronase politik, dan kepentingan ekonomi berkelindan di balik layar panggung politik nasional. Istilah "Kroni-Krasi" hadir sebagai metafora atas kondisi di mana akses terhadap sumber daya negara sering kali menjadi komoditas yang diperjualbelikan, menghalangi keterbukaan dan keadilan yang dicita-citakan.
Melalui buku ini, kita diajak menelusuri jejak perjalanan demokrasi dari Orde Lama hingga masa kini. Buku ini tidak hanya memotret wajah partai politik atau parlemen, tetapi juga membongkar bagaimana oligarki beradaptasi dan membajak institusi demokrasi dari dalam. KRONI-KRASI menggugah kita untuk merenungkan kembali arah perjalanan bangsa, menumbuhkan sikap kritis terhadap dinamika kekuasaan, serta menegaskan pentingnya peran kita sebagai penjaga utama republik agar kedaulatan tetap berada di tangan rakyat.
| Ukuran | 14.00 x 21.00 |
| Halaman | 190 |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Penulis | Restu Syamsariatulloh, Alif Firdaus Zamzam, dan Ahmad Sholikin |
| Penerbit | Elementa Media Literasi |
| ISBN | |
| e-ISBN |